Kamis, 12 April 2012

AEROPAGUS

Aeropagus
Dihukumnya seseorang yang tak bersalah merupakan urusan semua orang yang berpikir” (La Bruyerre, ahli hukum Perancis, abad 17 M)
Siapa yang pertama kali menciptakan pengadilan? Ternyata dewa-dewa yang membuatnya. Mereka-lah dalang hingga pengadilan ada di dunia. Dewa dewi-lah yang pertama kali mengadili. Aeropagus tempatnya. Disana, mereka sempat menggelar persidangan. Aeschylus (525-426 SM) yang mencatatkan kisahnya. Orang ini, katanya, seorang penulis drama Yunani Kuno. Karangannya mengkisahkan tentang pengadilan pertama di dunia. Dia cerita, Aeropagus pertama kali jadi tempat menyidangkan perkara. Kasus Orestes yang kali pertama disidang disana. Ketua majelis hakimnya Dewi Athena. Dewan jurinya berjejer dua belas dewa. Orestes adalah anak laki-laki Agamemnon. Dia ini bekas penguasa tunggal Mycenaea (Yunani). Sang penakluk Troya juga. Orestes diadili karena menikam ibu kandungnya, Clytemnestra. Dewi kahyangan jadi berang karenanya. Penyidikan dilakukan. Furies yang melakoni. Dia ini dewi keadilan. Selain Themis tentunya. Furies itulah jaksa penuntutnya. Sejak itu, Aeropagus jadi tempat bersejarah. Eposnya menyebar kemana-mana. Orang Yunani sangat percaya.

Abad berjalan, Aeropagus jadi keramat. Lokasi ini dijadikan pengadilan orang Yunani betulan. Tak lagi buat dewa dewi kahyangan. Tempatnya diatas bukit kecil (bukit Ares). Dia ada disebelah barat Athena. Tak ada gedung atau bangunan disana. Melainkan batu-batu cadas dengan ukuran besar. Itulah podium tempat Arkhon dan lainnya berdiri.

Terdakwa diletakkan ditengah-tengah. Arkhon yang memimpin sidang. Semacam hakim. Arkhai yang menyiapkan administrasi persidangan. Inilah cikal bakal panitera pengadilan. Diantara arkhai tadi, dibentuk sebelas orang yang mengurusi eksekusi. Isitilahnya “dewan sebelas”. Kawanan ini punya daya untuk menahan dan menangkap. Tapi khusus buat kasus yang ‘ep autophoro (tertangkap tangan).

Arkhon pertama bernama Draco. Dia ini yang menyusun aturan dan hukuman. Setiap terdakwa yang disidang, Draco yang menentukan hukuman. Selama Draco menjabat, orang Yunani banyak yang sambat. Draco dianggap terlalu kejam. Hukuman yang ditentukan, tak sebanding dengan perbuatan. Draco kemudian diganti. Karena dia dianggap mempraktekkan pengadilan sesat. Draco menerapkan hukum tanpa belas kasih. Terdakwa pencuri, dihukumnya mati. Padahal mencuri karena lapar, bukan mengejar materi. Pelacur, juga dihukum mati. Alhasil Draco tak menjelma jadi arkhon yang mulia. Draco berperan bak dewa pencabut nyawa. Warga Yunani resah karenanya. Aristoteles yang menceritakan begitu.

Solon kemudian mewarisi tahtanya. Dia jadi Arkhon kedua. Orang ini menyusun hukum baru. Tapi Aeropagus tak berubah. Tempat mengadili warga Yunani juga.

Beberapa abad kemudian, Aeropagus menyebar ke seantero dunia. Merambah hingga Eropa. Jerman salah satunya. Orang sana menggelar pengadilan pertama di bawah pohon-pohon oak dan Keltik. Namanya pengadilan Thing. Tapi sama saja. Yang diadili, tetap tak dapat membela diri. Siapa bersalah dan jadi terdakwa, vonisnya langsung mati. Rakyat yang jadi jurinya. Kala jumlah warga membanyak, pengadilan Thing berubah. Peradilan kemudian dilakoni dewan terpilih dari para tetua.

Zaman berubah. Aeropagus ditinggalkan. Thing disingkirkan. Pengadilan dibuat di gedung dan bangunan. Tapi rujukannya tetap Aeropagus. Hampir setiap negara memilikinya. Tapi sistemnya terbagi dua. Anglo Saxon dan Eropa Kontinental. Dua sistem ini yang menyebar kemana-mana. Sumbernya orang Eropa. Inggris dan Perancis yang memulai. Dua negara ini yang mengenalkan ke negara-negara jajahannya.

Inggris percaya sistem juri lebih memberikan keadilan. Sedang kontinental yakin hakim lebih menguasai soal kebenaran. Dua-duanya berjalan hingga kini. Tapi tetap saja, peradilan sesat terjadi.

Anglo Saxon tak jarang memvonis manusia tak berdosa. Italia salah satunya. Penganut Saxon ini sering salah mengadili. Kasus Lesurques jadi buktinya. Inggris begitu juga. Bahkan warga sana selalu memimpikan adanya Emile Zola dalam setiap perkara. Dia ini wartawan yang membongkar keadilan buat Dreyfus, orang yang divonis bersalah hakim sana. Tapi Zola membuktikan sebaliknya, lewat tulisan-tulisannya. Jerman apalagi. Kasus Ewald Schlitt yang termashyur. Orang ini yang membuat Hitler, sang Nazi- bertindak bak Draco di negaranya. Gara-gara, tanggal 26 April 1942, pengadilan Jerman tak menghukum Ewald yang menganiaya istrinya puluhan tahun, tapi cuma dihukum lima tahun. Hitler berang. Seluruh hakim diingatkan. Bila tak menghukum penjahat dengan berat, akan dipecat. Untungnya Hitler kemudian terjungkal.
Emile Zola
Tapi Eropa tetap tak menemui keadilannya. Amtsgerichtrat Sello, sarjana hukum Eropa memberi pesan. Dia mencatat, pasca Revolusi Perancis, pengadilan sesat kerap melanda benua itu. Jumlahnya mencapai 1.911 perkara. 36 di Jerman, 15 di Austria-Hongaria, 7 di Swiss, 1 Luxemburg, 117 ada di Inggris, 5 Amerika Serikat, 53 Perancis, 3 di Belgia, 6 di Italia, dan 34 di negara-negara lainnya. Tapi, itu catatan di abad lama. Sekitar 17 Masehi tahunnya. Sekarang pasti bertambah pula.

Eh, Indonesia tak beda. Yang anyar terjadi bulan lalu. Orang mengenalnya dengan kasus Ryan. Laki-laki yang dituduh membunuh berantai ini, mengaku membantai Asrori. Ryan “bernyanyi” Asrori mati ditangannya. Tapi, bertahun-tahun lalu, polisi, jaksa dan pengadilan telah menghukum orang yang dituduh menikam Asrori. Ini kesesatan pengadilan yang kedua. Kasus Sengkon-Karta yang membludak pertama. Pengadilan Indonesia salah memvonis juga. Negara ini tak beda dengan Eropa. Karena sistem yang dipakai, mengikuti Belanda. Eropa Kontinental, turunan Aeropagus juga.

Betapapun, pengadilan buatan manusia tak bisa dijamin kebenarannya. Beda dengan pengadilan Tuhan. Seperti yang dijanjikan, semua umat akan diadili, di suatu saat nanti. Bukan di Aeropagus atau Thing. Bukan pula dengan cara kontinental atau saxon. Padang Mashyr tempatnya. Arkhon-nya juga bukan manusia. Tapi Tuhan Sang Pencipta. Dia menentukan hukuman-nya. Ukurannya dari perbuatan manusia juga. Penuntutnya adalah Rakib dan Atid. Keduanya malaikat, sang panitera sejati. Catatan ditangannya tak kenal sesat atau salah. Tak bisa disuap juga. Tak ada pula advokat pembela. Umat dihukum sesuai kesalahannya. Juga diberi hadiah, seperti perbuatan baiknya. Itulah pengadilan ter-adil didunia. Baik dan benar diberi imbalan yang sesuai. Mashyr menjamin hukum ditegakkan secara benar. Karena hanya pengadilan ini yang tak mengikuti epos khayalan kahyangan. Andai negeri mengikuti sistem ini, mungkin kasus Asrori tak terjadi.
Irawan Santoso
(Majalah MAHKAMAH, edisi II, Oktober 2008)

Kamis, 05 April 2012

Parthenon


Athena adalah sebuah nama. Kini menjelma jadi kota. Konon, nama itu bermula karena seorang dewi, Athene. Yunani percaya, Athene dewi kebijaksanaan, ahli strategi dan perang. Tapi Romawi meyakini, Athene sama dengan Minerva.

Athene perawan sejati. Epos-nya membahana sebagai gadis yang tak pernah disentuh dewa. Diapun diberi gelar pallas (gadis). Orang-orang menyebutnya Pallas Athene.

Dewi ini juga punya sejarah digdaya. Dia adalah puteri Zeus. Hasil persetubuhannya dengan Metis, maka lahirlah Athene. Metis sendiri, juga bukan dewi biasa-biasa. Dewi yang paling cerdik diantara semua dewi yang ada. Dewi Themis, kalah pandai dibanding dia. Hera juga, selalu takluk dengannya.
Parthenon

Tapi, Zeus sempat ketakutan. Ada ramalan bilang, lahirnya Athene, bakal mengancam singgasanya. Zeus takut, Athene bakal lebih kuat darinya. Padahal Zeus adalah raja-nya dewa-dewa. Penguasa kahyangan satu-satunya. Walau mahadewa, tapi Zeus percaya takhyul juga.

Zeus kalap. Dia menguntal perut Metis, biar Athene mati keguguran. Tapi dari belakang, Hephaistos, dewa sekandung Zeus, marah melihatnya. Hephaistos memukul kepala Zeus sampai terbelah. Keajaiban terjadi. Ternyata, dari situlah Athene lahir. Begitu muncul, bukan bayi bentuknya. Athene langsung sesosok dewasa dengan pakaian prajurit, ageis, tombak dan helm perang. Kenapa bisa? Tak ada yang tahu sebabnya. Tapi namanya juga dewa, beda dengan manusia, katanya.

Ditengah kejadian itu, halilintar dan petir, menyambar kuat-kuat. Menandakan Athene telah lahir dikahyangan. Athene pun siap menentang ayahnya, Zeus tadi. Sayang epos ini, berhenti disini. Ending kisah ini, entah bagaimana. Entah Athene berhasil mengkudeta, tak tahu juga. Karena sang Homer, sastrawan Yunani yang menceritakan dalam bukunya, Illiad, tak melanjutkannya.

Waktu berjalan, Athene banyak disembah. Namanya membahana. Karena manusia lebih percaya padanya. Parthenon pun berdiri di atas bumi. Dia ada di Troya. Ini kuil khusus untuk manusia menyembah Athene. Kuil ini berbentuk gedung dengan delapan pilar besar didepan.
Supreme Court di Amerika Serikat

Sekitar abad 5 SM, Athene pun dijadikan judul sebuah kota, Athena. Zeus sendiri, sampai kini tak ada yang mau menabalkan namanya. Entah jadi kota, merek ban, korek api, pengadilan, atau apapun namanya. Sang puteri, justru lebih menjulang citranya.

Lahirnya Athena juga, bukan tanpa cerita. Dulunya, kota ini sebagai pengganti Troya (kini Turki bagian Barat) yang terbakar. Troya hancur karena perang sepuluh tahun dengan Sparta (dulu Yunani). Perang itu, gara-gara rebutan pallas (gadis) belaka.

Awalnya, Helen, gadis Troya dibawa kabur Paris, putera raja Troya, Priam. Helen ialah permaisuri Menelaus, dia ini raja yang adik kandungnya Agamemnon, penguasa Sparta dan Myceneae. Antara Agamemnon dan Priam, adalah sahabat sejak lama. Titah Agamemnon agar Priam mengembalikan Helen, tak diindahkan. Dia pun murka. Seluruh balatentara yang ada, dibawanya. Menyeberang laut hitam, menyerbu Troya.

Agamemnon membawa semua prajurit tangguhnya, Achilles, Ajax, Patroclus, Teucer, Nestor, Oddysseus dan Diomedes. Drama sempat terjadi. Seribu kapal perang Agamemnon, sempat tak bisa berlayar. Karena tak ada angin dan hujan. Agamemnon lalu membunuh puteri semata wayangnya, Iphigenia. Gadis kecil ini dikorbankan untuk dewi Themis. Angin pun berhembus seketika. Tentara Sparta pun menyerbu Troya.

Begitu sampai di Troya, pasukan Sparta lansung digdaya. Mereka menguasai Acropolis, dataran tinggi Troya. Kebetulan, disana itulah Parthenon berdiri. Tak disangka, puteri Cassandra, bersembunyi didalamnya. Gadis ini anak perempuan Priam. Adiknya Paris. Cassandra lagi asyik menyembah Athene. Ajax melihat Cassandra. Dia lalu memperkosanya. Ajax menggagahi Cassandra di kuil dewi yang perawan. Parthenon pun ternoda. Tak ada kisah Ajax terkena karma. Dia sehat-sehat saja.

Selepas perang, Troya hancur. Agamemnon mati. Priam juga. Athena pun berdiri. Inilah kota pertama didunia. Parthenon di Acropolis itu, diperbaiki lagi. Abad berselang, Parthenon berubah fungsi. Bangunan berpilar delapan itu, ditiru Barat. Parthenon menjadi simbol gedung pengadilan. Di Amerika, bangunan Supreme Court­ (Mahkamah Agung)-nya, meniru habis Parthenon. Inggris juga sama. Perancis tak beda.

Eh, Indonesia sama saja. Meniru juga. Lihat saja bangunan Mahkamah Konstitusi di Jakarta. Gedung dengan sembilan pilar didepan itu, menjiplak Parthenon juga. Waktu diresmikan, bangunan itu katanya sangat elegan bernuansa gothic Romawi. Untuk membangun gedung itu, Rp196 Miliar digelontorkan. Mereka yakin, gedung itu sebagai ajang penjaga konstitusi kita. Mereka percaya, bangunan itu, membawa berkah konstitusi kita. Padahal, Parthenon aslinya tempat menyembah Athene. Padahal di bangunan serupa, Ajax memperkosa perawan Cassandra. Di dalam sana, Ajax berbugil ria, dengan sang wanita yang meronta. Di nusantara ini, kita yakin didalam “parthenon”, konstitusi
kita bisa lestari. Hanya karena, Barat yang kita dijadikan kiblat.
Hanya karena, kita selalu mengekor Barat yang sesat.



Majalah MAHKAMAH (edisi 1-15 Februari 2009)

Senin, 02 April 2012

THEMIS II



Entah kenapa, orang percaya dengan keadilan buatan manusia. Selagi semua bersumber dari manusia juga, selalu ada konflik didalamnya. Yang parah, orang-orang percaya keadilan sama dengan sebuah benda. Keadilan, seolah adalah Themis semata. Karena benda inilah lambang keadilan satu-satunya. Themis itulah logo buat keadilan diseluruh dunia. Padahal, hikayatnya sungguh jauh berbeda. Padahal, dia sesungguhnya sosok pemangsa manusia.

Agamemnon itulah yang pernah jadi korban nyata. Katanya, Agamemnon itu penguasa Sparta dan Mycenea. Kini Yunani. Dialah sumber petaka bangsanya. Agamemnon pengusung Trojan War yang melegenda. Karena dia bernafsu menguasai jagad sana. Seribu kapal perang, dibawanya menuju Troya. Di sana raja Priam yang berkuasa. Dia menguasai Troya. Karena seorang wanita, Agamemnon hendak menyerang Troya. Seluruh balatentara yang ada, dibawanya. Tapi begitu hendak berangkat, tak ada angin berhembus sama sekali. Agamemnon dan seluruh kapal yang ada, menunggu hingga tiga bulan lamanya. Tapi senyiur angin pun tak berhembus sama sekali. Kapal-kapal itu tak bisa berlayar. Raja itu panik, dia minta advis seorang paranormal, penyembah setia dewa-dewi kahyangan. Katanya, Agamemnon mesti menyembelih anak semata wayangnya, Iphigenia. Buat persembahan Themis semata. Dukun itu bilang, Themis yang meminta nyawa anaknya.

Eh, Agamemnon percaya. Puteri kecilnya, dibunuh dipinggir lautan. Themis, konon, riang kesenangan. Sementara Agamemnon sedih bukan kepalang. Tapi Themis tak perduli. Epos berkisah juga, setelah pembunuhan itu, angin memang berhembus kencang. Seribu kapal perang Sparta berlayar seketika. Di kahyangan sana, Themis tak sedih sama sekali.

Era kini, Themis dipuja lagi. Dia disembah dimana-mana. Semua pengacara selalu memelihara patungnya di atas meja kerja. Seluruh hakim dan jaksa, menyediakan Themis sebagai lambang keadilan. Padahal, sosok dewi ini, tak pernah sekalipun mengkisahkan soal keadilan.

Hikayat tentang dia, hanya dikisahkan oleh Homer semata. Dia ini penggiat sastra di zaman Yunani Kuno. Hidupnya juga, jauh sebelum kita. Sekitar abad ke-5 SM tahunnya. Homer berkisah, Themis hanyalah salah satu bangsa titan. Homer adalah salah satu dari tiga sastrawan yang menguak takdir. Kala itu, dua penggiat sastra lainya yang melegenda adalah Hesiodes dan Solon. Tapi karya-karya Homer-lah yang ikut mempengaruhi Socrates, Plato dan Aristoteles untuk berfilsafat dengan tema hukum.

Ada dua karya sastra Homer yang menggemparkan. Judulnya adalah "Illiad" dan "Odyssey". Dua buah pikiran Homer inilah yang diyakini banyak mempengaruhi literatur dunia barat. Nah, dalam "Illiad" itulah Homer mendongengkan cerita Dewi Themis.

Homer menuliskannya berpanjang-panjang. Katanya, Themis merupakan salah satu dari bangsa Titan. Themis adalah buah hati dari pasangan Ouranos (dewa langit) dan Gaea (dewa bumi). Themis tak sendiri. Dia punya sebelas saudara. Kawanan keluarga Themis ini disebut sebagai sesepuh para dewa. Hanya karena mereka adalah kelompok dewa-dewa yang paling tua. Merekapun menjadi pemula penguasa dunia. Mereka dibekali kekuatan dan ukuran yang besar. Tapi sifat dan wataknya tak beda dengan manusia. Ada dewa yang pemarah, ada yang lemah lembut, ada pula yang gagah perkasa. Tak jarang juga yang buruk rupa.

Cronus (Saturnur), cerita Homer, adalah salah satu saudara Themis. Dialah yang semula menjadi penguasa tunggal dunia. Tapi, suatu ketika, Cronus dikudeta. Pelakunya adalah anak laki-lakinya sendiri. Dialah Zeus. Proses kudeta itu sangat berdarah. Karena melibatkan pertarungan ayah dan anak dengan lagam kekerasan. Namun pemberontakan Zeus tak berjalan sendiri. Dia dibantu dua pamannya, Promotheus (dewa pencipta makhluk hidup) dan Oceanus (Dewa sungai). Dua dewa ini saudara kandung Themis.

Zeus kemudian bertahta di gunung Olympus. Dewa ini ternyata memiliki temperament tinggi. Tak jarang amarah Zeus memuncak. Dia sering melemparkan kilat kala tengah emosi. Sasarannya adalah makhluk yang membuatnya kesal. Bukan itu saja. Dia juga gemar berpoligami. Dewi yang dikawininya tak cuma satu. Selain Hera, dia memperistri Demeter, Semele, Metis. Metis adalah ibu kandung Pallas Athena. Empat istri tak juga memuaskan birahinya. Zeus juga mengawini beberapa puteri manusia. Sebut saja nama Danae, Alkmene dan lainnya. Buah perkawinannya dengan Alkmene inilah yang menghasilkan Herakles. Orang Romawi menyebut Hercules. Pastinya, Themis hanyalah setitik noktah di pangkuan Zeus. Dia tak begitu berarti bagi raja dewa itu.

Beberapa saudara kandung Themis, ada juga yang memiliki peran penting. Misalnya Dewi Tethys (istri Oceanus), Dewi Mnemosyne (dewi memori), Dewi Hyperion (bapak dari Matahari), Dewa Lapetus (ayah Pomotheus) dan dewa Atlas (dewa yang membawa dunia dengan dua bahunya). Pastinya, sejak itu Zeus berlakon sebagai dewa-nya dewa. Dia beristrikan Hera sebagai ratu-nya dewa di jagad khayangan. Sekali lagi, bukan Themis.

Padahal, tak ada kisah berarti mengapa Zeus mengawini Themis. Entah karena paras atau body Themis, Zeus jadi tergila-gila, tak tahu juga. Yang ada, Themis justru pasrah dikawini keponakannya sendiri. Themis tak berontak sama sekali.

Nah, dari silsilah keluarga para dewa tadi, hanya Themis-lah yang tetap dipuja hingga kini. Dirinya dianggap sebagai simbol keadilan. Padahal sepak terjangnya tak diketahui pasti. Terlebih lagi berkisar lakonnya dalam memperjuangkan sebuah keadilan.

Ironisnya lagi, semasa Themis hidup, gejolak kerap terjadi. Themis tentu menyaksikan kudeta yang dibuat Zeus. Mengapa Themis tak berperan? Setidaknya bila proses perebutan kekuasaan itu benar berlangsung, pedang Themis siap memberantas kebatilan. Justru Themis diam saja.

Sebagai dewi,dia kerap dimadu oleh Zeus. Tapi Themis diam seribu bahasa. Tak ada epos yang berkisah Themis berontak atas ulah Zeus itu. Themis tak bersuara memperjuangkan keperempuanannya. Themis tetap pasrah melihat Zeus membabat banyak wanita. Themis bukanlah sosok pejuang bagi kalangannya.

Tapi manusia sekarang, menyembah Themis tak sembarangan. Semua pendekar hukum, terus memajang Themis sebagai simbol keadilan. Entah apa alasannya hingga bisa demikian. Themis beruntung karena beragam sarjana hukum jadi umat setianya.

Tapi tetap Barat-lah yang memulai pertama. Disana, Themis dipajang dimana-mana. Themis disembah, disetiap pengadilan Eropa. Mettalica sempat menyaru juga. Mereka pernah menjadi Themis sebagai sampul albumnya yang bertemakan ”justice”. Di Roma, Themis dijuluki ”justitia”. Di Perancis sama saja. Disana dewi itu menjadi simbol kodifikasi pertama Napoleon Bonaparte. Amerika tak beda. Themis menjelam jadi bagian ’secondary county courthouse’ sejak 1890 lalu.

Orang Indonesia tak beda. Ikut-ikutan juga. Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Agung sampai pengacara hitam, memajang Themis dengan kebanggaan. Kata mereka, inilah dewi keadilan.

Padahal, Agamemnon telah sadar, Themis itulah “pembunuh” puteri semata wayangnya. Themis itulah yang membinasakan keluarganya. Themis itulah, penyebab dia tak punya ahli waris kerajaannya.

Di nusantara ini, Themis terus disembah tanpa pamrih. Themis jadi simbol keadilan, yang tak jelas hikayatnya dalam mengusung keadilan. Justru yang ada, Themis adalah penyebab kebatilan. Justru kala dirinya memberi angin, jutaan tentara Sparta dan Troya mati sia-sia. Dia tak pantas jadi simbol keadilan.